Liburan Berlima di Jogjakarta - Part 2

Minggu, April Mop 2012

Jam 06.30 pagi kakak dan abang dateng ke hotel gw. Lanjut kita jalan-jalan di sekitar hotel untuk nyari makan sembari nunggu mobil sewaan yang baru.

Jalan Pagi di Malioboro

Kita sarapan di Soto Gareng yang terletak di seberang stasiun tugu. Gw lupa harga soto ini tapi yang pasti murah banget dan rasanya enak. Gw juga pernah makan di tempat ini waktu kunjungan Kanopi ke UGM 4 tahun lalu.

Soto Pak Gareng

Setelah itu kita balik ke hotel dan jam 09.00 mobil sewaan yang baru sampe di hotel. Kita nyewa dari 45 Transport, mobil Avanza manual seharga IDR 250.000 per 24 jam dan harus deposit IDR 4.000.000 kalau mau lepas kunci.

Setelah dapet mobil, kita lanjut ke tujuan berikut: Candi Borobudur. Setelah perjalanan sekitar 1 jam, jam 10.00 kita sampe di Borobudur. Harga tiket masuk saat ini adalah IDR 30.000 per orang.

Untuk masuk ke Candi Borobudur, kita harus pake kain batik yang dililitkan di pinggang. Ada dua motif, hitam putih dan coklat. Kita seragaman pake yang hitam putih. Hal ini ditujukan untuk melestarikan batik. Inovasi yang bagus dan menyenangkan.

Kita juga beli tiket naik kereta-keretaan yang menghubungkan pintu gerbang dengan candinya dengan tarif per orang IDR 5.000 dan dapet bonus air mineral.

Sekitar 1,5 jam kita muter-muter di candi Borobudur. Sebenernya ini udah yang ketiga kalinya gw ke Borobudur, tapi si abang baru pertama kali, dan pertama kali juga gw sekeluarga ada di Borobudur, hehehehe.

Borobudur

Jam 12.30 kita menuju lokasi selanjutnya: Lava tour. Lava tour ini adalah objek wisata baru di Jogjakarta, yaitu mengunjungi desa Kinah Rejo, desa yang luluh lantak karena erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam, dan di desa ini ada reruntuhan rumah Mbah Maridjan yang juga tewas akibat erupsi tersebut.

Dengan mengandalkan GPS, kita motong jalan dari Jalan Raya Magelang ke Kaliurang lewat jalan-jalan kecil, menghemat waktu supaya nggak harus balik ke Jogja dulu.

Sebenernya cukup mudah mencapai tempat ini dari Jogja. Dari Jalan Raya Kaliurang, lurus teruuuussss aja mengarah ke Merapi Golf. Nanti akan ada petunjuk ke Lava Tour tersebut.

Di perjalanan menuju desa Kinah Rejo, kita sempet mampir ke museum Merapi yang ada di kaki gunung merapi. Di museum ini dijelaskan struktur merapi, riwayat erupsi, akibat erupsi, dll. Semua yang berkaitan dengan gunung merapi. Harga tiketnya lumayan murah. Kalau nggak salah nggak sampe IDR 5.000 per orang.

Museum Gunung Merapi

Selanjutnya kita sampe di gerbang depan desa Kinah Rejo. Saat itu lagi hujan badai. Jadi kita harus nunggu beberapa saat di mobil sampe hujan reda. Untuk mencapai lokasi-lokasi yang ada di desa tersebut, seperti rumah Mbah Maridjan, kita bisa jalan kaki, sewa ojeg, atau sewa motor ojeg.

Sewa ojeg IDR 30.000 per trip, sewa motornya ojeg IDR 20.000 per trip (cuma sewa motornya aja, jadi kita yang ngendarain sendiri keatas), atau sewa motor trail seharga IDR 50.000 per 30 menit. Waktu itu kita sewa satu ojeg buat bokap, dan dua motor ojeg buat gw, nyokap, kakak, dan abang.

Sungguh merinding ngebayangin daerah yang tadinya hijau dan bagus, sekarang rata dengan tanah. Rumah Mbah Maridjan dan masjid yang dulu sering terlihat di tv, sekarang udah nggak ada apa-apanya lagi. Btw, tukang ojeg yang ngangkut bokap gw juga merangkap sebagai tour guide.

Desa Kinah Rejo yang Hancur Karena Erupsi Merapi

Disini gw juga foto bareng sama Bu Udi, adik kandungnya Mbah Maridjan. Asli mirip banget. Biar enak minta foto bareng, gw beli salak yang ada di warungnya Bu Udi ini seharga IDR 27.000.

Bu Udi, Adiknya Mbah Maridjan

Hari sudah menunjukkan pukul 16.00 dan kita turun ke Kaliurang untuk shalat zuhur dan ashar di sebuah masjid random di Kaliurang.

Selanjutnya jam 17.00 kita makan siang yang telatnya kebangetan di sebuah restoran bebek random yang juga ada di kaliurang. Kita pesen sangat barbar, bebek, ikan, sayur, dll. Dan harganya sangat-sangat murah, kalau nggak salah makan berlima nggak sampe IDR 100.000.

Super Late Lunch

Abis makan kita menuju hotel Bhineka yang ada di dekat stasiun Tugu, karena kakak gw mau pindah hotel ke hotel ini.

Setelah itu, sekitar jam 19.30 kita menuju Mirota Batik yang ada di Malioboro untuk belanja berbagai titipan dan keperluan pribadi. Gw beli hiasan miniatur Borobudur seharga IDR 16.000 dan tas batik IDR 70.000. Tidak mampu mengimbangi kegilaan gw dan kakak gw dalam berbelanja, bokap nyokap dan abang kembali duluan ke hotel.

Abis dari mirota, gw dan kakak gw jalan lagi ke Malioboro Mall untuk ngeliat counter Danar Hadi yang ada disitu. Belum nemu yang cocok, kita berdua jalan lagi ke toko Danar Hadi yang ada di Malioboro. Disini gw ketemu kemeja batik yang cocok dan lagi diskon seharga hanya IDR 170.000.

Abis dari Danar Hadi (terpaksa keluar dari toko karena udah jam 21.00 dan tokonya mau tutup), kita berdua balik ke Ibis Hotel. Setelah istirahat sebentar, jam 22.30, setelah si abang nyampe ke Ibis Hotel, kita berlima langsung naik ke mobil lagi untuk menuju daerah Ambarketawang. Disini ada toko yang jual Bakpia yang menurut tante-tante gw enak. Toko ini buka 24 jam, sesuai prinsip gw, toko yang buka 24 jam harus dikunjungi seterakhir mungkin, sehingga waktu jalan-jalan menjadi optimal, hehehe..

Jam 23.00 kita sampe di Toko tersebut dan belanja buanyak banget untuk oleh-oleh keluarga dan teman di Jakarta.

Setelah selesai belanja kita balik ke pusat kota. Jam 24.00 kita menuju samping Stasiun Tugu untuk nongkrong di Angkringan Lik Man. Empat tahun lalu gw juga pernah nongkrong disini sama Hage, Banyu, dan Febri. Kita beli nasi kucing dengan berbagai lauk dan tentu saja, kopi Joss: Kopi hitam yang dicampur dengan arang.

Kopi Joss di Angkringan Lik Man (maaf ada kaki)

Setelah nongkrong di angkringan lik man ini kita balik ke hotel masing-masing untuk istirahat.


Senin, 2 April 2012
Jam 07.30 kita sudah berkumpul di Ibis hotel dan langsung menuju Jalan Wijilan untuk sarapan. Kita sarapan di Nasi Gudeg Yu Djum yang ada di Jalan Wijilan ini. Sebenernya juga ada beberapa warung gudeg lainnya, tapi Yu Djum ini adalah salah satu yang punya review paling banyak di internet.

Kita makan dengan ayam, tahu, dan tempe. Harga disini luar biasa mahal. Nasi Ayam dada kalau nggak salah IDR 30.000an. Cita rasanya lumayan enak sih, meskipun gw bukan pecinta makanan manis, tapi dengan harga segitu, agak kurang sepadan sih menurut gw.

Selesai makan jam 08.30, masih ada waktu 30 menit sampe mobil sewaan diambil lagi sama rentalnya. Untuk memanfaatkan waktu, kita muter-muter di kawasan kraton, taman sari, terus sampe nyaris jam 09.00.

Jam 09.00 tepat kita sampe di Ibis hotel, dan nggak berapa lama orang rentalnya dateng untuk ngambil mobilnya.

Setelah mobil diambil, kita berpisah. Gw bokap dan nyokap istirahat di hotel sampe jam 12.00 waktu check-out. Setelah check-out, kita nitip koper di resepsionis untuk muter-muter sebentar di Malioboro sekedar menghabiskan waktu menjelang ke bandara.

Di Mall Malioboro, bokap sempet beli kemeja batik Danar Hadi. Terus kita makan gudeg dan bakso di pinggiran Malioboro, didepan sebuah masjid di Malioboro. Baksonya sungguh nggak enak, tapi gudegnya enak, apalagi harganya jauuuhhh lebih murah dari yang di Jalan Wijilan.

Waktu kita bertiga lagi makan, tiba-tiba kita ketemu lagi sama kakak dan abang yang mau shalat. Walhasil kita makan bareng lagi, berpisahnya ditunda lagi, hehehe.. Selagi kakak dan abang makan, kita bergantian shalat zuhur dan ashar di masjid di belakang tempat makan ini.

Bakso Random di Pinggir Malioboro

Jam 13.30 kita semua selesai shalat dan makan, terus balik ke hotel untuk naik taksi ke Bandara. Disini kita bener-bener berpisah karena gw bokap dan nyokap akan balik ke Jakarta naik pesawat jam 15.35, sedangkan kakak dan abang akan naik kereta jam 18.30 sore.

Perjalanan sekitar satu jam (sempet beli duku di tengah perjalanan), jam 14.30 sampailah kita di Bandara Adisutjipto. Setelah nunggu agak lama, pesawat agak delay beberapa menit, akhirnya kita boarding jam 15.30 dan take-off jam 15.50. Penerbangan kali ini menggunakan Garuda Indonesia GA 213 tujuan Jakarta.

GA 213 Tujuan Jakarta

Setelah 45 menit penerbangan, akhirnya sekitar jam 16.45 pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta. Setelah urusan bagasi selesai, kita langsung antri taksi. Seperti biasa ngantrinya panjang. Kita dapet Gamya sekitar jam 17.30.

Perjalanan dari Bandara sampe Lenteng Agung cukup lancar untuk itungan jam pulang kantor, tapi sayangnya karena hujan yang terlalu deras, kawasan Gerbatama UI banjir, jadinya di sepanjang flyover UI muacet parah hingga membutuhkan waktu satu jam hanya untuk melewati flyover tersebut.

Akhirnya kita baru sampe di rumah jam 20.00 dan gw kembali harus menghadapi kenyataan kalau besok paginya gw piket LPEM dan harus berangkat subuh.

Sekian pengalaman pertama libur berlima dan liburan kedua dalam rangkaian dua minggu hectic gw. Baja juga postingan berikutnya tentang trip ke Korea Selatan yang gw jalani seminggu setelah pulang dari Jogja.


*Fin

Liburan Berlima di Jogjakarta - Part 1


Awal bulan Maret, bokap gw sempat melontarkan keinginan untuk jalan-jalan di Jogja. Kesempatan ini nggak gw sia-siakan, berselang satu hari setelah bokap ngomong, gw langsung beli tiket dan hotel untuk tanggal yang disepakati, yaitu 31 Maret sampai 2 April 2012.

Berselang beberapa hari, kakak gw juga pengen ikut, tapi naik kereta. Meskipun dengan beberapa permasalahan menjelang keberangkatan, akhirnya kakak gw bisa mewujudkan jalan-jalan keluar kota berlima untuk pertama kalinya ini.

Jumat, 30 Maret 2012
Sore hari kakak dan abang gw meluncur ke stasiun Senen untuk naik kereta ekonomi AC ke Jogja. Gw juga baru tau kalau sekarang ada 4 tingkatan kelas kereta yang menuju Jogja: Ekonomi Biasa, Ekonomi AC, Bisnis, dan Argo. Ekonomi AC ini berhenti di setiap stasiun tapi pake AC *CMIIW*

Kakak gw berangkat tanpa membawa bagasi sama sekali. Seluruh barang bawaannya dibawa sama gw besok pagi naik pesawat. Malamnya gw sang master packing mengepack seluruh barang bawaan untuk lima orang kedalam dua travel bag.


Sabtu, 31 Maret 2012
Jam 03.30 pagi, Taxiku yang sudah dipesan malam sebelumnya tiba di rumah. Setelah mempersiapkan makanan untuk Euis selama dua hari, kita langsung naik ke taksi untuk jalan menuju Bandara.

Sampe di Bandara jam 04.30, kita langsung check-in di counter manual. Karena gw beli tiket online di website Garuda Indonesia, kita nggak bisa online check-in ataupun phone check-in. Sepertinya Garuda Indonesia harus lebih memperbaiki fasilitas ini deh.

Sekitar jam 05.00 kita shalat subuh di mushala umum. Sembari nunggu nyokap  yang shalatnya super lama, gw sama bokap nunggu di Starbucks sambil beli hot coffee dan English breakfast. Nggak lupa gw beli Beard Papa untuk kakak dan abang nanti di Jogja. Selagi nunggu ini kita ketemu Peppy the Explorer yang lagi makan macaroni schoutel.

Pada saat yang sama, kakak dan abang udah sampe di Stasiun Tugu dan lagi makan gudeg.

Jam 05.30 kita menuju ruang tunggu F2, dua puluh menit kemudian pesawat boarding dan take-off tepat waktu jam 06.10. Pesawat kali ini adalah Garuda Indonesia GA 202 tujuan Jogjakarta.

Setelah penerbangan selama 45 menit yang hanya ditemani dengan beberapa makanan ringan, jam 07.20 pesawat mendarat di Bandara Adisutjipto Jogjakarta.

Mendarat di Adisutjipto

Setelah urusan bagasi selesai, gw dihubungi sama orang 1wan transport tempat gw menyewa satu mobil Avanza seharga IDR 250.000 per 24 jam. Awalnya kita mau sewa untuk 48 jam, tapi karena ternyata nggak ada asuransi sama sekali untuk mobil tersebut, kita jadinya nyewa 24 jam aja, dan nyari rental mobil lain yang ada asuransinya.

Setelah kakak dan abang gw nyampe bandara, kita langsung jalan ke Solo. Di tengah perjalanan kita sempet isi bensin IDR 50.000. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, kita sampe di Solo jam 10.30.

Tujuan pertama adalah Kraton Solo. Harga tiket per orang kalau nggak salah IDR 10.000. Sebelum masuk, kita dikumpulin dulu sama guidenya supaya jumlah orangnya memadai untuk dinatar sama satu orang guide. Kita diajak berkeliling kraton sambil diceritain filosofi tentang berbagai hal di kraton ini.

Kraton Solo

Sebenernya gw udah pernah ke Kraton Solo ini 4 tahun yang lalu dan gw sendiri bisa jadi guide buat keluarga gw, tapi yaudahlah, nggak semuanya gw tau juga kan. Guide ini tidak dikenakan biaya, tapi beliau “tidak menolak” kalau ada yang mau ngasih sumbangan seikhlasnya.

Sekitar jam 11.30 kita selesai keliling di Kraton dan langsung menuju kawasan pasar gede untuk makan Timlo Sastro yang beralamat di Jalan Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo telpon 0271654820. Timlo Sastro ini semacem soto yang isinya jeroan ayam, mulai dari ati, ampela, usus, telor, dll. Rasanya lumayan enak, cuma jelas-jelas nggak baik bagi kesehatan. Hahaha… Secara gw nggak bertanggungjawab sama masalah pembayaran, gw jadi nggak tau harganya berapa, hehehe..

Timlo Sastro

Abis makan kita lanjut ke tempat yang direquest sama bokap gw: Lembah Hijau Multifarm. Tempat ini adalah peternakan, pertanian, perikanan yang berada di satu lokasi di daerah outskirt Solo. Buat bokap gw yang orang peternakan, tentunya tempat ini sangat menarik. Tapi untuk 4 orang sisanya, kita cuma tertarik duduk di kafetaria sambil minum teh botol.. hahaha.. untungnya ada temen bokap gw yang bisa nemenin bokap gw keliling-keliling. Masuk ke kawasan ini tidak dipungut biaya.

Lembah Hijau Multifarm

Setelah itu kita menuju Masjid Agung Surakarta yang berada di sekitar Kraon. Hari sudah menunjukkan jam 15.30 dan waktunya shalat Zuhur dan Ashar. Kita berada di masjid ini sekitar satu jam.

Masjid Agung Surakarta

Kondisi pada saat itu, semua gadget kehabisan batre. iPhone gw, androidnya si abang, dan n82 kakak gw semuanya kehabisan batre karena kita sangat memberdayakan GPS di gadget-gadget tersebut. Oleh karena itu, sekalian memanfaatkan voucher excelso café punya si abang, kita menuju excelso café yang ada di Mall Solo Paragon. Disana kita beli beberapa kopi termasuk kopi luwak, dan green tea. Tak lupa kita numpang ngecharge semua hp yang bisa di charge.. hahaha..

Excelso Cafe, Mall Solo Paragon

Sekitar jam 18.30 kita bergerak lagi untuk makan malam di Nasi Liwet Wongso Lemu yang beralamatkan di Jalan Teuku Umar, di depan pura Mangkunegaran. Ini adalah nasi liwet yang disajikan diatas daun yang dibentuk jadi krucut, dengan daging ayam, telur, tahu, dan areh. Areh itu adalah santan khas nasi liwet. Ada ibu-ibu yang duduk di depan semacem pikulan, kita minta mau pake lauk apa aja, nanti dia langsung meracik makan sesuai pilihan lauk kita. Harganya kalau nggak salah sih belasan ribu untuk satu porsi lengkap.

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu

Ada tips kalau makan di tempat ini. Kalau nggak mau mengeluarkan uang untuk sinden-sinden yang nyanyi selama kita makan, jangan duduk di dalam ruangan, duduk aja di deretan kursi yang ada di depan si ibu-ibu itu, niscaya anda tidak “wajib” untuk ngasih duit ke sinden-sinden tersebut.

Di sepanjang Jalan Teuku Umar ini ada beberapa warung yang jual nasi liwet, tapi yang paling banyak reviewnya di internet adalah yang paling pinggir arah timur yang kain penutupnya warna kuning, tempat kita makan.

Selanjutnya kita balik ke Jogja. Kita sampe di hotel tempat kakak dan abang gw nginep di kawasan Sosrowijayan sekitar jam 21.00, lanjut check-in di Ibis Hotel di Malioboro tempat gw bokap dan nyokap akan menginap. Gw udah booking Ibis Hotel via Agoda dari Jakarta. Kamar superior seharga IDR 550.000 per malam.

Pada saat kita check-in, lagi dilangsungkan earth hour, makanya lobby hotel agak gelap. Cuma lampu-lampu utama aja yang dinyalakan.

Setelah beres-beres, kita ngebalikin kunci mobil avanza tersebut ke 1wan transport, dimana orangnya dateng langsung ke hotel gw. Setelah itu kita istirahat.


*bersambung ke part 2

Manado dan Bunaken - Part 2


Rabu, 28 Maret 2012
Karena seluruh pekerjaan sudah dipadatkan di hari selasa kemarin, hari ini kita berdua bisa gabut memanfaatkan jerih payah atas kerja keras di hari sebelumnya. Seperti yang sudah diinfokan sebelumnya, hari ini kita mau snorkeling di taman laut bunaken.

Setelah sarapan di restoran hotel, jam 09.00 kita dijemput sama Pak Radi Akillie, tour guide kita di lobby hotel. Dengan menggunakan kijang Innova, kita diantar ke Marina yang hanya berjarak 5 menit dari hotel. Sampai di Marina, kita sudah ditunggu oleh satu glass bottom boat yang lumayan besar berkapasitas hingga 20 orang. Setelah pak Radi mengisi manifest kapal, kita langsung boarding. Kapal sebesar itu hanya disewa untuk gw dan Tita, enak banget jadi orang kaya ternyata, hahaha..

Setelah sekitar satu jam perjalanan, atau jam 10.30, sampailah kita di kawasan taman laut Bunaken. Sekitar 20 menit kita melihat kehidupan bawah air dari atas kapal, karena ini adalah glass bottom boat. Kita sempat melintasi sekelompok orang yang lagi diving.

Glass Bottom Boat

Setelah melihat gugusan karang dan ikan-ikan dari kapal, kita merapat ke pelabuhan di Pulau Bunaken untuk menyewa peralata snorkeling. Satu set peralata snorkeling (google, snorkel, dan wetsuit) seharga IDR 110.000. Kita juga harus nyewain untuk pak Radi. Disini kita juga nyewa underwater camera seharga IDR 350.000 untuk sekitar 100 foto dan satu orang fotografer. Kita juga beli biskuat seharga IDR 5.000 per bungkus untuk ngasih makan ikan.

Tempat Penyewaan Peralatan

Sebenernya kita juga ditawarin diving. Diving di Taman Laun Bunaken tarifnya sekitar IDR 1.000.000 termasuk peralatan dan guide, dan langsung dapet sertifikat, jadi langsung bisa menyelam lebih dari 5 meter. Sayangnya ada syarat bahwa penyelam tidak boleh naik pesawat minimal 24 jam setelah menyelam. Dan kami tidak bisa memenuhi syarat tersebut dan hanya bisa puas dengan snorkeling. Next time gw akan mencoba diving di sini.

Kita langsung bertolak lagi ke tengah laut. Setelah ganti wetsuit, kita langsung nyebur. Untungnya gw sudah sering snorkeling, jadi pak Radi bisa fokus ngejagain si Tita tanpa harus nyewa satu guide lagi.

Spot snorkeling terletak kurang lebih 300 meter dari bibir pantai. Perairan di taman laut bunaken ini sangat landai. Kedalamannya kurang dari 3 meter. Jadi kita dengan mudah bisa free diving untuk menyentuh karang-karang yang ada. Tapi setelah 300 meter tersebut, langsung ketemu palung yang super dalam. Palung inilah yang menjadi objek untuk diving.

Gerbang Depan Taman Laut Bunaken

Selagi snorkeling, kita dikerubungin sama ikan-ikan yang rebutan biskuat yang gw bawa. Sementara itu juga si fotografer aktif ngambilin foto kita dengan kamera underwater yang kita sewa tersebut. Gw sangat puas dengan hasil foto-foto selama snorkeling.

Snorkeling

Setelah sekitar 2 jam snorkeling, kita kembali ke pulau bunaken untuk bilas dan ganti baju. Tarif bilas di kamar mandi umum adalah IDR 10.000.

Setelah itu kita makan siang di salah satu restoran yang ada di pulau Bunaken. Makan siang ini sudah termasuk dalam biaya tur. Menu yang disajikan nggak kira-kira banyak. Ada 4 jenis masakan ikan, satu masakan ayam, dua jenis sayur, dan gorengan. Sudah pasti kita nggak bisa ngabisin semuanya, mau dibungkus juga nggak mungkin. Soal rasa, standar sih, tapi ikannya gw akui seger-seger banget. Yaiyalah, secara di tengah laut gitu ya..

Makan Siang di Pulau Bunaken

Setelah makan, gw sempet beli beberapa cinderamata, gelang-gelangan dan gantungan kunci untuk oleh-oleh. Harganya murah-murah kok, total belanja gw nggak lebih dari IDR 25.000.

Sekitar jam 13.30, kita kembali ke kapal untuk kembali berlayar menuju Manado. Jam 14.30 kita sampe di Marina, dan langsung diantar ke Swiss-Belhotel dengan mobil avanza sewaan. Langsung masuk ke kamar dan istirahat.

Jam 16.00, gw dan Tita kembali janjian di Lobby untuk makan Es Tji Mei, sesuai dengan rekomendasi situs-situs kuliner yang sudah kita jelajahi. Lokasinya ada di Jalan Jendral Sudirman, jalan yang sama dengan hotel kita. Dari Swiss-Belhotel, jalan kearah kanan (barat), nanti ketemu perempatan kita lurus, lokasinya sekitar 200 meter dari perempatan dan ada di sebelah kanan.

Es Tjie Mei adalah es kacang merah dengan campuran Durian dan Nangka seharga IDR 16.000 per mangkok. Rasanya: SUPERRRRR ENNNAAKKKK…!!! pastikan anda tidak melewatkan es ini kalau berkunjung ke Manado.

Es Tji Mei

Setelah makan es, kita balik ke hotel untuk istirahat.

Jam 18.30 kita janjian lagi di lobby hotel untuk makan malam. Rencananya kita mau makan di food garden di Jalan Sam Ratulangi dengan berbekal GPS dan jalan kaki. Disini katanya ada bubur manado dan mie cakalang. Tapi sayangnya, di tempat yang kita kira adalah food garden tersebut, kita cuma menemukan masakan chinese yang menjual babi, jadilah kita batal makan disini.

Selagi mencari makanan lain, gw sempet mampir ke Gramedia untuk beli Conan nomor 65 yang baru keluar.

Setelah berputar-putar, sekitar jam 20.30 akhirnya kita cuma nemu kafe random yang masih buka. Menu yang tersedia cuma ikan-ikanan. Gw pesen paket ikan cakalang, nasi, dan es teh manis seharga IDR 18.000. Cukup murah.

The Last Supper

Abis makan kita jalan kaki ke hotel. Sampe hotel sekitar jam 21.30, pesen taksi untuk ke bandara besok pagi, beres-beres, packing, dan tidur.


Kamis, 29 Maret 2012
Jam 05.00 kita janjian lagi di lobby, check-out, dan naik ke taksi Blue Bird untuk menuju ke bandara. Karena masih sepi banget, kita sampe bandara hanya dalam 20 menit dan tarif IDR 35.000.

Setelah Check-in, kita jadi orang pertama yang masuk ruang tunggu dan bengong-bengong sambil nunggu boarding. Kita juga ngeliat co-pilot yang naik ke pesawat, dan co-pilot tersebut adalah perempuan. Pertama kalinya gw naik pesawat yang diterbangkan oleh seorang perempuan.

Sekitar jam 06.00, pesawat yang gw tumpangi, Garuda Indoensia GA 607 tujuan Jakarta boarding dan take-off tepat waktu jam 06.20 WITA. Selama perjalanan ini akhirnya gw bisa tidur tanpa harus mikirin kerjaan.

GA 607 Tujuan Jakarta


Mendarat di Soekarno Hatta jam 08.25 WIB. Setelah urusan bagasi selesai, kita langsung naik Damri ke Gambir, turun di Abdul Muis, nyambung taksi ke Kantor.

Sampe kantor sekitar jam 10.00, gw langsung beresin berkas pengurusan visa karena minggu depannya gw dan tim akan bertolak ke Korea Selatan, dan berkas visa harus diserahkan ke Kedubes Korsel sebelum jam makan siang. Alhamdulillah urusan penyerahan berkas visa bisa diselesaikan hari itu juga. Setelah itu gw pulang dan istirahat.

Sekian pengalaman gw di Provinsi Sulawesi utara, lanjut lagi di postingan berikutnya tentang jalan-jalan lanjutan dua hari berikutnya..



Manado dan Bunaken - Part 1


Postingan kali ini akan bercerita tentang pengalaman gw jalan-jalan kunjungan kerja di provinsi paling utara di pulau Sulawesi akhir Maret 2012 lalu.

Senin, 26 Maret 2012
Jam 03.20 pagi gw udah naik ke mobil untuk menuju ke bandara. Kali ini gw diantar bokap dan nyokap karena kebetulan mereka ada keperluan di bandara. Ketemuan sama si Tita di Pondok Pinang jam 03.40, lanjut kita meluncur ke bandara.

Sampe bandara sekitar jam 04.45, gw langsung menuju konter drop baggage karena sehari sebelumnya gw udah online check-in, jadinya nggak perlu antri di konter check-in biasa yang seperti biasa mengular dengan panjangnya.

Jam 05.00 kita shalat subuh di mushala, lanjut ke ruang tunggu F7. Sekitar 10 menit nunggu di ruang tunggu, akhirnya jam 05.20 kita dipanggil untuk boarding dan take-off tepat waktu jam 05.40 WIB. Perjalanan ke Manado kali ini Garuda Indonesia GA600 tujuan Ternate yang akan transit di Manado.

Selama hampir tiga jam penerbangan, gw sibuk menyelesaikan draft proposal untuk Bank Mandiri. Iya betul, ini adalah kerjaan kantor satu gw, sedangkan perjalanan ke Manado adalah kerjaan kator dua. Maklum double agent, hehehe..

Sekitar pukul 10.00 WITA pesawat mendarat di Bandara Sam Ratulangi di Kota Manado. Ini pertama kalinya gw menjejakkan kaki di Manado, meskipun yang ketiga kalinya menjejakkan kaki di pulau Sulawesi.

Bandara Sam Ratulangi

Setelah urusan bagasi selesai, kita langsung cari taksi untuk menuju hotel. Calo untuk taksi bertebaran dimana-mana, tipikal bandara di Indonesia. Bahkan kita menggunakan calo yang udah nawarin taksi ke kita waktu lagi nunggu bagasi. Kita sepakat untuk bayar IDR 70.000 untuk ke hotel kita di kawasan jalan Jendral Sudirman. Taksinya pun bukan taksi resmi seperti Blue Bird, melainkan kijang Innova yang disupiri sama mas-mas bertato dan bercelana pendek.

Sebenarnya banyak taksi Blue Bird di Manado dengan tarif yang sama dengan di Jakarta, tapi mereka nggak berani masuk ke bandara untuk ngambil penumpang karena bandara sudah dikuasai sama taksi-taksi gelap itu, mereka hanya berani mengantar penumpang aja. Kalau mau repot, keluar bandara tinggal belok ke arah kiri ke gerbang depan bandara, jarak gedung bandara dengan gerbang kurang lebih 500 meter. Di depan gerbang udah banyak taksi Blue Bird yang lalu lalang.

Sekitar satu jam perjalanan kita sampe di hotel. Sebenarnya jarak bandara ke Jalan Jendral Sudirman nggak terlalu jauh. Paling sekitar 15 kilo meter, tapi ternyata di Manado sudah banyak kemacetan yang menghambat perjalanan kita.

Kali ini kita menginap di Swiss-Belhotel Maleosan. Hotel ini udah kita booking dengan government rate dari Jakarta beberapa hari sebelumnya. Tarifnya IDR505.000 per malam untuk Superior Room dengan tempat tidur twin. Gw dapet kamar no. 510 dan si Tita di no. 509. Hotelnya bagus dan lokasinya strategis. Sangat recommended.

Room No. 510, Swiss-Belhotel Maleosan Manado

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, kita istirahat sebentar. Sementara gw juga ngirim kerjaan yang sudah gw selesaikan di pesawat ke rekan kantor satu gw.

Sekitar jam 13.00 setelah shalat zuhur dan ashar, kita berdua jalan ke Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara. Kita naik angkot sesuai dengan yang dikasih tau sama petugas hotel dan turun di dekat gramedia.

Ongkos angkot disini IDR 2.000 jauh dekat. Angkotnya pun lucu, semua tempat duduk menghadap ke depan. Baris pertama ada dua tempat duduk yang nempel satu dan lainnya, baris kedua juga ada dua tempat duduk tapi dipisahkan oleh gang, dan baris ketiga ada tiga tempat duduk.

Angkot di Kota Manado

Sesampainya di Dinas Pendidikan, semua orang yang akan kita temui sedang menghadiri upacara pemakaman. Pada saat yang sama sepertinya memang ada seorang tokoh penting kota Manado yang meninggal. Akhirnya kita hanya sempat reschedule jadwal pertemuan untuk esok harinya.

Karena memang tidak ada janji rapat lagi, setelah dari Dinas Pendidikan kita jalan ke arah pantai untuk menuju Manado Town Square. Berbekal GPS, kita jalan kaki menyusuri pusat pertokoan yang ada di sepanjang pantai. Dan ternyata jauh banget sampe-sampe kita ngelewatin beberapa mall.

Sesampainya di Manado Town Square sekitar jam 15.00 WITA, kita langsung nyari tempat makan. Tertarik dengan diskon 50% yang ditawarin sama Excelso café, mampirlah kita disana. Gw pesen steak ikan dori dan iced coffee seharga sekitar IDR 100.000, tapi karena dapet diskon, jadi cuma bayar sekitar IDR 50.000.

Ikan Dori Goreng Flakes dan Iced Coffee

Setelah makan, si Tita balik ke hotel sedangkan gw pengen nonton the Raid di bioskop Manado Town Square tersebut. Mumpung ada waktu dan sekalian nyobain bioskop di Manado, hehehe…

Selesai nonton sekitar jam 20.30 WITA, gw kembali ke hotel dengan angkot 02, terus turun di zero point untuk jalan kaki sekitar 1 km ke arah hotel. Jam 21.00 gw sampe di hotel, beres-beres, lanjut gw internetan pake free wifi sebentar di lobby, baru deh tidur.


Selasa, 27 Maret 2012
Sekitar jam 07.00 pagi gw turun ke restoran di lantai 2. Si Tita udah makan duluan, iya emang emte dia. Gw mulai dengan appetizer bubur manado, lanjut makanan berat, dan ditutup dengan buah. Sayang sekali menurut gw rasa makanannya nggak terlalu enak. Salah satu kelemahan utama dari hotel ini.

Untuk agenda hari ini, gw dan Tita bagi-bagi tugas. Tita akan mengunjungi Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja, sedangkan gw akan mengunjungi Universitas Sam Ratulangi dan Poltek Negeri Manado. Kebetulan banget bokap gw punya kontak orang penting di kedua institusi yang akan gw kunjungi, jadi cukup memudahkan gw dalam bikin janji.

Setelah makan, si Tita langsung meluncur memenuhi tanggung jawabnya, sedangkan gw kembali lagi ke kamar, karena gw janjian sama orang Universitas Sam Ratulangi sekitar jam 10.00 di hotel Aryaduta, cukup dekat dari Swiss-Belhotel.

Jam 09.30 gw naik angkot ke Hotel Aryaduta, gw ketemuan sama orang unsratnya di salah satu coffee shopnya. Disitu gw beli hot cappuccino dan croissant keju. Gw nggak tau harganya karena ditraktir si bapak itu, hehehe..

Setelah ngobrol-ngobrol sekitar satu jam, gw pamit dan dapet sms dari orang Poltek Negeri Manado, kalau dia lagi di Jakarta dan minta ketemuan di Jakarta aja, hahaha.. jauh-jauh nyamperin ke Manado, orangnya lagi di Jakarta.

Setelah itu gw menghubungi Pramono, kenalan gw orang Bappeda Sulawesi Utara yang pernah kenalan semasa kerja di Bappenas dulu. Gw jalan menuju kantor Bappeda yang bersebelahan dengan kantor gubernur Sulawesi Utara di jalan 17 Agustus. Naik taksi Blue Bird hanya sekitar 15ribu rupiah dari hotel Aryaduta.

Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Utara

Sempet ngobrol-ngobrol dikit sama si Pram di kantor Bappeda, gw minta beberapa data yang terkait dengan kerjaan gw di Manado.

Selesai ketemuan sama si Pram, sekitar jam 13.00 gw naik taksi menuju Universitas Sam Ratulangi, simply untuk foto di depan rektoratnya. Setelah dapet foto di depan rektoratnya, gw jalan lagi kearah Malalayang dengan berbekal GPS.

Universitas Sam Ratulangi

Tujuan gw ke Malalayang adalah untuk makan siang, karena menurut Ersya, temen SMA gw yang kerja di BPKP Sulawesi Utara, di Malalayang yang terletak di outskirt kota Manado atau beberapa kilometer arah barat daya kota Manado, banyak restoran-restoran yang menjual makanan khas kota Manado.

Dampak dari terlalu percaya dengan GPS adalah: gw terbiasa jalan kaki kemana-mana. Ternyata jarak dari Universitas Sam Ratulangi (tempat gw mulai jalan kaki) sampe kumpulan restoran di Malalayang itu sekitar 5 kilometer. Alias jauh banget bok.. Tapi jadinya gw bisa ngeliat peradaban di pinggiran kota.

Sekitar jam 14.30 gw sampe di restoran Ocean 27. Gw masuk di restoran ini karena rame banget dan ternyata pernah dikunjungi sama pak Bondan. Gw pesan ekor bobara, sayur kakap, dan es teh manis cuma sekitar IDR 36.000. Murah banget mengingat ekor bobara itu gede banget dan enak. Restoran ini juga letaknya di pinggir pantai, jadinya kita makan dengan latar belakang laut dan pulau Bunaken.

Restoran Ocean 27, Malalayang - Manado

Selesai makan gw balik ke hotel dengan menggunakan angkot. Sampe hotel sekitar jam 16.00. Sebelum balik ke kamar, gw booking tour untuk ke Bunaken dulu di Maleosan Tour and Travel yang ada di lobby Swiss-Belhotel.

Berhubung ini adalah weekdays dan bukan musim libur, peserta tour hanyalah gw dan Tita. Walhasil satu orang harus bayar IDR 800.000 diluar peralatan snorkeling, karena kita harus menyewa satu kapal besar sebagai fixed cost terbesar. Padahal kalau pesertanya 10 orang, biaya per orang hanya IDR 300.000. Tapi ya mau diapain lagi, mumpung udah sampe sini.

Setelah itu gw kembali ke kamar untuk istirahat.

Jam 19.00, gw dan Tita janjian di lobby untuk makan malam. Seperti yang telah kita browse sebelumnya, kita mau makan Nasi Kuning Saroja yang sangat terkenal di situs-situs kuliner.

Setelah kita tanya ke petugas hotel, mereka merekomendasikan untuk naik taksi. Setelah taksi datang, ternyata lokasinya cuma sekitar 1 kilometer dari hotel dan kita terpaksa bayar biaya minimum taksi seharga IDR 20.000, karena taksinya dipanggil ke hotel.

Nasi Kuning Saroja yang terletak di Jalan Diponegoro ini adalah nasi kuning biasa dengan tambahan telur rebus dan bumbu ikan asap, khas Manado banget sih aromanya. Satu piring harganya IDR 16.000. Rasanya sih menurut gw nggak terlalu berbeda dengan nasi kuning yang ada di Jakarta. Setidaknya been there done that aja lah ya..

Nasi Kuning Saroja

Setelah makan, kita kembali ke hotel dengan jalan kaki, yang ternyata cuma sekitar 20 menit aja. Sampe hotel sekitar jam 20.30, beres-beres, dan istirahat.



*bersambung ke post berikutnya